Rabu, 14 Juli 2010

Kata yang Mangawini Kata lalu Melahirkan Hujan

Ini bukan tentang kapan sesuatu dumulai
atau sekedar diakhiri…

/ 1 /
“Teruntuk dikau yang mangantongi hujan-hujan,
yang begitu kunanti,
semoga bisa membasahi kemarau di jiwa
dengan awan-awan cintamu..”

bagaimana jadinya jika langit tak lagi teduh
sementara semua yang tertuang
tak cukup membasahi kerontang tenggorokan
betapa bumi sudah teramat kehausan

apa yang sudah kau temukan pada rahasia hujan?

tak serupa tangis lajang
yang meratap ketika waktu sedang lengang
lantas mengering waktu ngilu mulai terbengkalai

adalah ungkapan yang meski sesekali terhenti
akan terus berlangsung berulang-ulang
menjadi ritual sakral

cinta yang begitu dalam
membasahimu dari kedalaman mata
yang menyemai benih-benih hujan

“Jika memang tatapan itu milikku..
lantas mengapa tatapan itu selalu mencipta ragu dan tanya..?”

apa yang terjadi pada sepasang mata
kau tak kan pernah sanggup menghitungnya

karena setiap gelagat yang kau cipta
seringkali memporanda renjana
lalu pada gelagat yang lain
kau kembali menyusunnya juga

rasa yang teramat bersahaja
telah meringkus siasat pada tatap
membenamkannya di sudut paling terkucil
dan tak mungkin dijumpai
sekali pun dalam kesunyian puisi

lantas dimana kau akan menemukan jawabannya?

cobalah sekejap saja
kau biarkan tubuhmu
menerima sihir paling mistis
tanpa kata tanpa mantra
termuncrat
dari sepasang mata yang paling gila

lalu kau mulai terkapar
ketika cinta merajamimu
melewati sela-sela tatap sepi
hingga tak kau temukan lagi
tanya dan ragu yang dulu begitu mengganggu

“semoga rasamu tetap terjaga hingga mencipta sejuta warna
rasa yang mewarna di hati yang mulai kabur…”

/ 2 /
tahukah kau,
hal terindah yang dihadiahkan cinta?

adalah ketika Tuhan ikut serta
dalam pergumulan sepasang raga

“gelisah
gundah
dan gemuruh hati ini,
tercipta dari gejolak rinduku
semoga sang pencipta rasa ini pun berkenan”

apa yang kau tahu tentang rindu?

sesuatu yang mengalir begitu deras
yang bertebaran ke tempat luas

berpendar keudara, menyusun awan
menjadi hujan, jatuh ke dasar malam

menjelma ke setiap gerak
hingga terbatas jarak mata memandang
lalu gagap rasa tentang nyata
;ada sesuatu yang meronta-ronta dalam kepala
memangil dengan suara paling lengking
seperti sebuah palu yang dipukulkan
ke dinding telingamu berkali-kali

“apa yang harus aku lakukan
jika aku merindukanmu sangat,
seperti saat ini?”

baiklah..
mari kita sederhanakan saja

jika suaramu sudah begitu parau
dan langkah kaki terlunta memurkai jarak
sementara sepasang ingin
begitu bergairah menjarah sabar
biarkan sepi meracau mengutuki suasana

tapi
bukankah semesta telah menyediakan segalanya?

biarkan nurani menari-nari
seraya menginjak-injak sajak
memuntahkan semua rasa dan bahasa

kau boleh terbang tinggi
seperti elang kelaparan
mencari seekor kelinci dungu
untuk kau ajak terbang juga

lalu siarkan isyarat
pada setiap degup jantung waktu
membarakan gigil ragu
karena raga tak kunjung bertemu
hingga berserak kecupan
meski sebatas hayal

kau pun boleh berkhayal..

“selalu kutitipkan rindu
pada malam yang senantiasa menemanimu
mencipta mimpi
hingga esok dapat kau maknai kembali
terbit matahari,
indah menyapa pagimu..”

nampaknya kau mulai paham..

jika sudah begitu
kau tak perlu lagi menyeret-nyeret awan
yang selalu mengabarkan turunnya hujan

tak perlu juga kau berguru pada sepi malam
menunggu sesuatu yang seringkali ingkar janji

kau hanya perlu mencongkakkan puisi pada nadirmu
lalu bertandang semanja bidadari hidangkan birahi
hingga semua warna lunglai memuja jasadmu

“Siapa bilang aku rindu
aku tak pernah rindu
hanya saja, ragaku ingin dalam dekapanmu selalu
juga rasa ini pun selalu ingin terbaca di jiwamu..”

mari kita berandai andai..

tiba-tiba saja kita begitu binal
hingga serigala di dada kita belingsatan
memburu lenguh demi kenyangkan rasa

dan untuk sementara waktu,
malu terperam di liang kuburnya
yang hanya menetas ketika lapar telah tuntas

apakah kau akan bersorak bahagia?

seringkali waktu lupa tentang belas kasihan
membatu, melimpahimu hujan
hingga sepimu sesak
dengan petir menyambar-nyambar
merumahkanmu dalam kesendirian tanpa alamat

kau tak harus selalu berjejal sayang..


/ 3 /
dalam sayembara yang kau gelar
berhadiah kecupan dan malam paling panjang
telah banyak setan bahkan malaikat
mati dan harus menggali kuburnya sendiri

pada siapa kemenangan akan kau berikan?

ada kerahasiaan dan tak patut dipertanyakan
atau kau hanya terlalu kebingungan
mengurutkan kata demi kata
demi sebuah pengukuhan paling manis

atau mungkin
dalam ketidakpastian saja
kau benar-benar berada dalam sorga

“nurani yang sebenarnya tak akan salah,
cukuplah begitu hingga lelah kaki melangkah”

bentang jarak diantara sepasang matamu
serupa sungai terpanjang
mengaburkan segala ramal

mungkinkah berkhir pada laut
yang masih tak asin atau tawar ini
menenggelamkan sepenuh hati
ke sunyi-riuh ombaknya

dan jika benar, di laut ini
kau boleh memberi warna selain warna biru
silahkan menyisipkan rasa selain asin garam
;sesukamu

“jika kamu tak pernah menghadirkan apa-apa..
haruskah aku tetap bertahan??”

apalagi..
yang akan tercipta dari ringkih rasa yang purba
sementara sekadar puisi saja
tak sanggup lagi membawamu ke angkasa

namun pada setiap getir takdir
kau senantiasa kembali terlahir
menghujamkan kecupan dari masa lalu
pada sehelai awan yang masih saja awan
berharap hujan menderas ke sekujur tubuhmu

“Sungguh..
melati putih telah aku berikan dengan kasih dan sayang
yang kupunya,
tapi..
semoga bukan tanda cinta,
karena melatiku pun akan layu”

tentang kapasrahan yang terangkai
juga pertautan rasa-raga kita
entah atas nama apa akan kita kenang

kita telah banyak mengecupi
hingga benar-banar hafal bermacam warna
namun di akhir setiap kecupan
tak pernah ada yang sanggup menentukan
warna apa yang akan terpakai

atau sebenarnya kita talah memilih?

warna hujan..

“indahku..
bersamamu melewati waktu
sedihku
melatiku tak lagi putih
entah..”

kau tak harus melautkan hujan ke pipimu
lalu gersang di sedap bibir berpetualang
itu hanya akan menjelaskan
bahwa ada sesuatu yang hilang

cukup kau terima rintiknya
menjejaki tengkuk lalu ke setiap bagian tubuhmu
dan kau menggelinjang tanpa penyesalan

karena wewangi yang tercuri dari tamanmu
juga malam yang acapkali terbit
dari setiap liuk tubuh dan renta rasa
tak pernah sanggup membatalkan
segala ucap dan pengertian

sampai kelak..
ketika mimpi tertangkap sepasang mata
kita tenggak hujan bersama-sama

Gunung Batu, 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar