Minggu, 26 September 2010
Tiga Waktu
Sekali lagi, datanglah kepadaku, dekat. Kita susun mukjizat di sepenuh malam pekat. Menganyam cecer mozaik kita, hingga takdir benar-benar lengkap. Atau jika tak bisa, teriakkan padaku, perihal rindu dan ihwal ingin bertemu; tanpa siasat.
Kita kemasi cahaya bulan malam ini.
Catat seluruh harap dan ingatmu ke tubuhku, kasat. Selesainya, rapal ke telingaku, dekat. Lalu di seluruhku, catat dan rapalmu berkeriap-beralamat-resap; perempuanku. Hingga pada yang mungkin, kita tak ragu untuk yakin.
Mata airku, mata batin dan darahku.
Seusai benih yang telah kutebar sempurna, berlakulah seperti awan-dingin-hujan; ooo sayangku. Menyingkirlah dari gejolak dunia, rakus nafsu hidup kita. Hingga pohon itu tumbuh subur. Menjadi separuh aku, separuh engkau.
Rabu, 14 Juli 2010
Doa Seorang Ayah Untuk Anaknya

Tuhanku,
binalah anak hamba untuk menjadi seseorang yang
cukup kuat untuk mengakui kelemahannya,
cukup berani untuk mengakui ketakutannya,
bangga dan tabah serta jujur dalam mengakui kekalahannya
rendah hati dan lemah lembut dalam kemenangan.
Binalah anak hamba menjadi seseorang
yang mampu mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja,
seorang anak yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan mengenal dirinya sendiri
adalah landasan segala pengetahuan
Kumohon kepadaMu,
janganlah pimpin dia di jalan yang mudah dan enak,
namun berilah dia kesempatan
untuk mengalami tekanan dan cobaan
di jalan yang penuh kesulitan dan tantangan
berilah dia kesempatan belajar,
untuk tetap tegak dalam prahara,
dan welas asih kepada yang mengalami kegagalan
Binalah anak hamba untuk berhati tulus,
dan bercita-cita tinggi
seorang anak yang mampu memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain,
seorang anak yang memahami arti tawa ceria
tanpa melupakan arti tangis duka,
seorang anak yang mampu memandang jauh ke depan,
namun tidak melupakan masa yang telah silam,
dan bila semua ini telah menjadi miliknya,
aku mohon kepadaMu tambahkanlah secercah kejenakaan,
supaya dia dapat bersungguh-sungguh,
dan juga dapat menikmati hidupnya,
anugerahilah dia kerendahan hati dan kesederhanaan,
yang merupakan dasar keagungan yang sejati
kesediaan untuk menerima kenyataan,
yang merupakan dasar kearifan yang sejati
dan kelembutan yang merupakan dasar dari kekuatan yang sejati.
dan akhirnya jika semua itu telah terwujud,
hamba, ayahnya,
akan memberanikan diri untuk berbisik,
hidup hamba tidaklah sia-sia.
(Doa ini adalah bagian dari warisan spiritual jendral Douglas Mac Arthur bagi anaknya. Ia menulis doa itu pada hari-hari pertama Perang Pasifik yang sangat berat baginya)
Kata yang Mangawini Kata lalu Melahirkan Hujan
atau sekedar diakhiri…
/ 1 /
“Teruntuk dikau yang mangantongi hujan-hujan,
yang begitu kunanti,
semoga bisa membasahi kemarau di jiwa
dengan awan-awan cintamu..”
bagaimana jadinya jika langit tak lagi teduh
sementara semua yang tertuang
tak cukup membasahi kerontang tenggorokan
betapa bumi sudah teramat kehausan
apa yang sudah kau temukan pada rahasia hujan?
tak serupa tangis lajang
yang meratap ketika waktu sedang lengang
lantas mengering waktu ngilu mulai terbengkalai
adalah ungkapan yang meski sesekali terhenti
akan terus berlangsung berulang-ulang
menjadi ritual sakral
cinta yang begitu dalam
membasahimu dari kedalaman mata
yang menyemai benih-benih hujan
“Jika memang tatapan itu milikku..
lantas mengapa tatapan itu selalu mencipta ragu dan tanya..?”
apa yang terjadi pada sepasang mata
kau tak kan pernah sanggup menghitungnya
karena setiap gelagat yang kau cipta
seringkali memporanda renjana
lalu pada gelagat yang lain
kau kembali menyusunnya juga
rasa yang teramat bersahaja
telah meringkus siasat pada tatap
membenamkannya di sudut paling terkucil
dan tak mungkin dijumpai
sekali pun dalam kesunyian puisi
lantas dimana kau akan menemukan jawabannya?
cobalah sekejap saja
kau biarkan tubuhmu
menerima sihir paling mistis
tanpa kata tanpa mantra
termuncrat
dari sepasang mata yang paling gila
lalu kau mulai terkapar
ketika cinta merajamimu
melewati sela-sela tatap sepi
hingga tak kau temukan lagi
tanya dan ragu yang dulu begitu mengganggu
“semoga rasamu tetap terjaga hingga mencipta sejuta warna
rasa yang mewarna di hati yang mulai kabur…”
/ 2 /
tahukah kau,
hal terindah yang dihadiahkan cinta?
adalah ketika Tuhan ikut serta
dalam pergumulan sepasang raga
“gelisah
gundah
dan gemuruh hati ini,
tercipta dari gejolak rinduku
semoga sang pencipta rasa ini pun berkenan”
apa yang kau tahu tentang rindu?
sesuatu yang mengalir begitu deras
yang bertebaran ke tempat luas
berpendar keudara, menyusun awan
menjadi hujan, jatuh ke dasar malam
menjelma ke setiap gerak
hingga terbatas jarak mata memandang
lalu gagap rasa tentang nyata
;ada sesuatu yang meronta-ronta dalam kepala
memangil dengan suara paling lengking
seperti sebuah palu yang dipukulkan
ke dinding telingamu berkali-kali
“apa yang harus aku lakukan
jika aku merindukanmu sangat,
seperti saat ini?”
baiklah..
mari kita sederhanakan saja
jika suaramu sudah begitu parau
dan langkah kaki terlunta memurkai jarak
sementara sepasang ingin
begitu bergairah menjarah sabar
biarkan sepi meracau mengutuki suasana
tapi
bukankah semesta telah menyediakan segalanya?
biarkan nurani menari-nari
seraya menginjak-injak sajak
memuntahkan semua rasa dan bahasa
kau boleh terbang tinggi
seperti elang kelaparan
mencari seekor kelinci dungu
untuk kau ajak terbang juga
lalu siarkan isyarat
pada setiap degup jantung waktu
membarakan gigil ragu
karena raga tak kunjung bertemu
hingga berserak kecupan
meski sebatas hayal
kau pun boleh berkhayal..
“selalu kutitipkan rindu
pada malam yang senantiasa menemanimu
mencipta mimpi
hingga esok dapat kau maknai kembali
terbit matahari,
indah menyapa pagimu..”
nampaknya kau mulai paham..
jika sudah begitu
kau tak perlu lagi menyeret-nyeret awan
yang selalu mengabarkan turunnya hujan
tak perlu juga kau berguru pada sepi malam
menunggu sesuatu yang seringkali ingkar janji
kau hanya perlu mencongkakkan puisi pada nadirmu
lalu bertandang semanja bidadari hidangkan birahi
hingga semua warna lunglai memuja jasadmu
“Siapa bilang aku rindu
aku tak pernah rindu
hanya saja, ragaku ingin dalam dekapanmu selalu
juga rasa ini pun selalu ingin terbaca di jiwamu..”
mari kita berandai andai..
tiba-tiba saja kita begitu binal
hingga serigala di dada kita belingsatan
memburu lenguh demi kenyangkan rasa
dan untuk sementara waktu,
malu terperam di liang kuburnya
yang hanya menetas ketika lapar telah tuntas
apakah kau akan bersorak bahagia?
seringkali waktu lupa tentang belas kasihan
membatu, melimpahimu hujan
hingga sepimu sesak
dengan petir menyambar-nyambar
merumahkanmu dalam kesendirian tanpa alamat
kau tak harus selalu berjejal sayang..
/ 3 /
dalam sayembara yang kau gelar
berhadiah kecupan dan malam paling panjang
telah banyak setan bahkan malaikat
mati dan harus menggali kuburnya sendiri
pada siapa kemenangan akan kau berikan?
ada kerahasiaan dan tak patut dipertanyakan
atau kau hanya terlalu kebingungan
mengurutkan kata demi kata
demi sebuah pengukuhan paling manis
atau mungkin
dalam ketidakpastian saja
kau benar-benar berada dalam sorga
“nurani yang sebenarnya tak akan salah,
cukuplah begitu hingga lelah kaki melangkah”
bentang jarak diantara sepasang matamu
serupa sungai terpanjang
mengaburkan segala ramal
mungkinkah berkhir pada laut
yang masih tak asin atau tawar ini
menenggelamkan sepenuh hati
ke sunyi-riuh ombaknya
dan jika benar, di laut ini
kau boleh memberi warna selain warna biru
silahkan menyisipkan rasa selain asin garam
;sesukamu
“jika kamu tak pernah menghadirkan apa-apa..
haruskah aku tetap bertahan??”
apalagi..
yang akan tercipta dari ringkih rasa yang purba
sementara sekadar puisi saja
tak sanggup lagi membawamu ke angkasa
namun pada setiap getir takdir
kau senantiasa kembali terlahir
menghujamkan kecupan dari masa lalu
pada sehelai awan yang masih saja awan
berharap hujan menderas ke sekujur tubuhmu
“Sungguh..
melati putih telah aku berikan dengan kasih dan sayang
yang kupunya,
tapi..
semoga bukan tanda cinta,
karena melatiku pun akan layu”
tentang kapasrahan yang terangkai
juga pertautan rasa-raga kita
entah atas nama apa akan kita kenang
kita telah banyak mengecupi
hingga benar-banar hafal bermacam warna
namun di akhir setiap kecupan
tak pernah ada yang sanggup menentukan
warna apa yang akan terpakai
atau sebenarnya kita talah memilih?
warna hujan..
“indahku..
bersamamu melewati waktu
sedihku
melatiku tak lagi putih
entah..”
kau tak harus melautkan hujan ke pipimu
lalu gersang di sedap bibir berpetualang
itu hanya akan menjelaskan
bahwa ada sesuatu yang hilang
cukup kau terima rintiknya
menjejaki tengkuk lalu ke setiap bagian tubuhmu
dan kau menggelinjang tanpa penyesalan
karena wewangi yang tercuri dari tamanmu
juga malam yang acapkali terbit
dari setiap liuk tubuh dan renta rasa
tak pernah sanggup membatalkan
segala ucap dan pengertian
sampai kelak..
ketika mimpi tertangkap sepasang mata
kita tenggak hujan bersama-sama
Gunung Batu, 2009
JALAN BUNTU
dogma-dogma berarak petak-petak
alamatkan jejak kepada bijak dan sesak pekak
ketika sebagian muak menatap sesat nampak
dengan mata terbelalak
sang empu benamkan suluh
pada warna tertentu; semuanya hitam
riak-riak penasaran, mengapa tepian tak juga terkalahkan
terjungkal dan terjungkal lagi sebagai pecundang
lalu bertapa, rawa tawa tak merah cerah
suruh ceruk mantra tergali
bulat-bulat mati melingkar
mengitari ujung tempat kuku-kuku
keduanya adu beradu
satu persatu menitipkan tuah
satu belati siap membunuh apa-siapa saja
jabang angkuh terlahir sebagai pramusaji hidangkan janji
wajah para arwah meraut jadilah seribu topeng
penuh kasih penuh cinta
tenggelam di irama desah
paksa peluh luruh bersama tusukan buluh
walau tak selalu
jalan ini berakhir di tempat itu
Jember,2007